Blinking Hello Kitty Angel
Blinking Hello Kitty Angel
Blinking Hello Kitty Angel
Blinking Hello Kitty Angel

Senin, 15 Juli 2013

... Ketika Dia Dekat dan Pergi ...

Kalian pasti pernah merasakan bagaimana menyayangi seseorang? Apa makna perasaan itu bagi kalian? Seneng bukan? Rasanya dunia itu indah banget. Tapi, kalian pernah gak berfikir bagaimana jika seseorang yang kita sayang itu akan meninggalkan kita? Pasti kita sangat sedih dan gak akan pernah nyangka akan bagaimana hancurnya hati kita. Dan bagaimana jika seseorang yang kita sayang itu malah pergi ketika kita benar-benar sangat membutuhkannya? Malah ... dia pergi, untuk selamanya! Bisa gak ngebayangin jika itu benar terjadi di kehidupan kalian saat ini? Bisakah kalian terima semua yang telah digariskan Tuhan untuk hidup kita? Tapi ketulusan itu membuktikan kekuatan hati kita agar kita ikhlas dengan semua keputusan Tuhan.

Cerita ini adalah kenyataan, yang terinspirasi dari kejadian yang sahabat aku alami. Dia menyayangi sahabatnya, dia begitu dekat dengan sahabatnya akhir-akhir ini. Tahap pendekatan mungkin, tapi ternyata ketika dia benar memiliki perasaan yang dalam pada sahabatnya itu, sahabatnya pergi, untuk selama-lamanya. Meninggalkan dia dengan kejadian yang sangat tragis, dan tak pernah disangka, kecelakaan itu akan memisahkan mereka. Ketika dia dan sahabatnya itu sangat dekat, tapi sahabatnya pergi tanpa tersisa sedikit waktu agar mereka bisa bersama lagi.

Uly, dia sahabatku. Sahabat ketika kita dipertemukan di bangku SMP Negeri Lembang. Kita begitu dekat dan layaknya sahabat, kita sangat sering berbagi cerita satu sama lain. Kita udah tau sifat masing-masing, karakter, dan tipe cowo yang kita suka. Hehehe biasa yah anak remaja gak jauh dari yang namanya cowok! Yang kadang nyebelin, tuh cowok bisa bikin kita setres setengah mati!! Tapi kunci aku dan sahabatku adalah menguatkan satu sama lain apapun masalahnya dan selalu empaty, merasakan apa yang aku dan sahabatku rasa. Yaaa mau senang, sedih, susah, bahagia, happy, kesel, galau, apapun itu. Hmm, tapi apa daya ketika kita harus terpisah jarak. Yaa, dari bangku SMP ke tingkat yang lebih tinggi. Aku memutuskan untuk melanjutkan di bangku SMK Bandung, sedangkan sahabatku, dia di SMA Lembang. Jauh memang, kalau boleh sih kita pengen satu sekolah lagi, tapi sikon dan mungkin takdir, gak bisa buat kita deket kaya SMP. Agak jauh, gak seperti dulu. Tapi persahabatan kita tetep terjaga walau kita udah punya temen baru, bahkan sahabat baru mungkin. Namanya juga suasana sekolah baru, pastilah ada temen baru. Iya gak?
Udah beberapa lama kita gak kontak karena kesibukan masing-masing. Aku sebagai anak SMK sekarang ya sibuk dengan praktek segala macem, dan Uly sebagai anak SMA sibuk sama yang namanya tugas kelompok. Waaaah udah beda tuh waktu buat kita ketemu, hari libur ajah kita gak bisa ketemu. Jadi kangen sama Uly yang otaknya itu loading lamaaa! Hahaha
“Kemana ajah Ly? Pasti masih sibuk dengan tugas kelompoknya ya? Lah, dasar anak SMA wleee.” Aku coba buat SMS dia karena rasanya udah lama kita gak pernah SMSan. Ohh dia bales “Ada kok Wid, iya sibuk ini juga lagi ngerjain tugas. Heh!! Kaya yang kamu gak sibuk ajah tuh praktek mulu! Dasar anak SMK wleee. Hahaha” Dia meledek.
Kita SMSan, dan karena gak tau kabar dan perkembangan hidup masing-masing, biasalah kita curhat. Dan memang saat itu aku lagi suka sama cowok, tapi yang namanya sahabat, ada ikatan batin kali yah? Dia nebak duluan siapa cowok yang aku taksir di sekolah.
“Iya Ly, Wid lagi suka sama cowok daa.” , “Iya, Uly tau kok pasti kamu lagi suka sama c Arman? Hayo ngakuuu!!!”, “Ihhh, kata siapa? Nggak ko, Ly nggak. Kita cuman sahabatan ajah.”, aku mengelak. “Udah, jangan bohong, keliatan dari kemaren-kemaren kamu ngomongin dia terus, hahaha iya khan?”. Kebayang dong gimana malunya aku ketauan suka sama cowok dan ternyata...
“Uly, iyah. Wid suka sama Arman hehe. Sahabat cowok aku.”, aku mengaku sambil memang malu bangeeet!
“Tuh khan apa Uly bilang, dasooor. Wid tau gak kalo sebenernya c Arman itu sahabat kecil Uly? Hahaha”.
Apa? Ihh malu banget khan aku suka sama sahabatnya sahabatku sendiri? Yaa tapi banyak informasi yang aku dapetin dari situ, lumayan hehe
Tapi kenapa dia tuh susah banget ngakunya kalo dia suka sama siapa, setelah putus sama cowoknya yang hubungannya itu jarak jauh, Longdistance bahasa gaholnya hehe.
Kesini-kesini kita sering kontak lewat situs jejaring sosial Facebook, yang buming banget. Kita sering WTWan (Wall To Wall), coment-coment status, message’an, tapi yang paling sering kita itu yaa suka dindingan (WTW) itu. Tapi kalo curhat di FB bisa kacau lah, nanti bisa jadi rahasia dunia.
Suatu saat ...
“Wid, Uly mau karyawisata loo ke Jogja.”, “Iya tau, tuh di FB pada ngomongin itu, saya mah sudah ahh waktu kelas satu , bawa oleh-oleh ajah yah haha aku nitip.”, “Ih enak ajah, Wid juga ngga ngasih :p”, “Sok atuh bawa ke rumah hehe nih ada mau mah.”, “Ah paling bakpia kadaluarsa. Hahaha :D”

Tanggal 6 Januari, Uly berangkat karyawisata ke Jogja, sedangkan aku mendapatkan Tranee di Hotel. Selagi dia di Jogja dia gak ngasih kabar, dan aku juga sibuk harus kerja. Aku pun gak buka FB udah lama karena paket nge-Net udah habis. Jadinya aku dan Uly gak saling kontak lagi beberapa hari ini, sampai pada dia pulang dari Jogja gak lama beberapa harinya. Dengan kejadian yang nggak pernah aku duga.
Tapi, tanggal 10 Januari pagi, aku mendapat SMS dari Ferra, teman sekelasku di SMK. Isinya cukup mengejutkan!
“Innalillahi Wa Innaillahi Raji’un. Hey kawan, masih inget gak sama temen SMP kita, Willi. Sekitar jam 10 malem tadi dia meninggal karna kecelakaan, minta do’anya ajah yaa.”
Astagfirulloh, aku gak salah baca khan? Innalillahi, umur itu gak ada yang tau. Dia masih muda, tapi siapa sangka nyawanya diambil Tuhan ketika dia lagi merasakan bahagianya jadi seorang remaja.
Aku sebenernya gak bermaksud buat menghiraukan SMS dari Ferra, tapi aku buru-buru harus berangkat kerja akhirnya aku lupa akan SMS itu, lupa membalas dan lupa isinya. Karna memory penuh ya aku langsung hapus message yang sudah terbaca.
Tapi ternyata, orang-orang di angkot pun membicarakan tentang kecelakaan itu, tetanggaku, juga teman-teman SMP. Aku jadi teringat lagi dengan sosok Willi yang badannya kecil-kecil, seperti orang Jepang mungkin karena matanya sipit banget, dia sebagai maskotnya SMP angkatanku. Benar-benar aku gak nyangka sama sekali bahwa temanku akan mengalami kecelakaan sampai dia meninggal. Gimana kejadiannya aku gak tau banyak. Tapi ...
“Kasian temennya sepupu ibu, tanggal 9 malem dia kecelakaan di depan POM Tahu Lembang sampe meninggal, jatuh dari motor katanya. Pulang dari Jogja orang lain mah istirahat, eeeh dia malah motor-motoran. Yah c Ipad nangis, soalnya waktu di Jogja, dia sama temennya itu masih foto-fotoan dan barengan terus.” Ibu Fika tetanggaku bercerita tentang kejadian semalam kepada Mamahku. Dan Mamahku menceritakannyalagi kepadaku selepas aku pulang dari kerja.
Esoknya, aku sedang off kerja. Banyak orang bercerita tentang kecelakaan yang temanku alamin itu. Semua orang Lembang sepertinya tahu...

Tanggal 12 Januari, aku berangkat kerja. Di angkot, aku melihat kecelakaan pada pagi hari di daerah Andir, Lembang ketika aku mau berangkat Tranee ke Hotel. Sungguh mengenaskan, sepertinya seorang laki-laki berumur, memakai sepatu boots, sudah ditutupi sarung dan koran, lalu bagian kepalanya ditahan oleh helm entah miliknya atau bukan. Di daerah itu macet, karena banyak warga Andir sekitar dan orang-orang yang melewati daerah kecelakaan itu sepertinya ingin melihat kejadian tragis yang menewaskan seorang laki-laki memakai sepatu boots itu. Di sana ada seorang Polisi yang sedang mengamati rinci kejadian, banyak warga, satu sepeda motor, juga angkutan umum Ciroyom-Lembang. Supir angkotku menduga bahwa angkot Ciroyom-Lembang lah yang menabrak laki-laki itu. Entahlah, karena penumpangnya pun menduga seperti itu. Terkenal sekali memang, angkot Ciroyom-Lembang suka ngebut dari dulu. Makanya, aku jarang sekali naik angkot itu, takuuut!
Setelah angkot Stasion-Halte-Lembang yang aku tumpangi ini maju sampai arah Cihideung, ibu-ibu di sebelahku respon membicarakan tentang kejadian yang menewaskan seorang pelajar SMA Lembang, dan temannya yang koma di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Yah!! Itu Willi, ibu-ibu yang pulang dari pasar itu sedang menceritakan kecelakaan Willi.
“Minggu malem ya bu, anak SMA tabrakan di depan gang HBO, jatuh dari motor lalu ketabrak mobil sedan. Melarikan diri itu mobil, anaknya baru pulang karyawisata dari Jogja. Sekarang temannya koma di Rumah Sakit, tapi malang nasib anak yang langsung tewas di tempat, kepalanya ajah sampe mau putus.” Ibu-ibu yang duduk di sebelahku itu menjelaskan kejadiannya, aku sampai melirik ke arah ibu itu berbicara.
Apakah kejadiannya begitu tragis, Ya Tuhan? Itu temanku!! Walau kita tidak saling kenal tapi aku tahu dia. Willi!
Sontak aku sangat kaget dengan kejadian yang menimpa teman se-angkatanku waktu SMP tersebut. Diliputi rasa gak percaya aku mendengarkan ibu-ibu itu berbincang. Sampai akhirnya gak ada lagi suara terdengar karena ibu-ibu tersebut sudah turun di daerah Hotel Gumilang Sari.
Percaya gak percaya, dengar cerita itu aku sempat membayangkan betapa melaju kencangnya mobil sedan yang menabrak temanku, Willi. Sampai dia tewas di tempat, juga temannya yang sekarang sedang koma di Rumah Sakit. Hmmm sungguh aku pilu membayangkannya. Ngeri dan gak percaya!
Ternyata, lagi aku dateng ke Office, senior-seniorku di Hotel asyik membicarakan kecelakaan di Andir pagi hari tadi. Mereka baru saja pulang Outing di Cikole, Lembang. Dan sepulangnya dari Cikole mereka melewati daerah Andir yang lebih ramai dari daerah sebelumnya yang masih sepi.
“Kayaknya bakalan masuk koran tuh kecelakaan. Mengerikan sekali sampai ada yang meninggal, kenapa yah. Penasaran sama kejadian rincinya.” Seniorku berbincang dengan rekan-rekannya.

Besoknya, ketika aku pulang kerja sore hari, Uly SMS aku.
“Wid, taukah kalo Willi meninggal?”. Aku belum sempat membalas SMS Uly karena gak ada sinyal, dan aku sedang ganti pakaian setelah kerja.
Ketika aku di angkot, dia SMS lagi “Sayang Willi sampai kapanpun . Gak rela kamu ninggalin aku kaya gini!! Please wake up boy :’( gak ada harapan ketemu sama kamu lagi sayaaang”. Aku heran dengan SMS yang dia sampaikan, apakaaaah? Gak mungkin sih kalo udah jadian, tapi kalo Uly suka sama Willi mungkin ajah..
Aku membalas SMS Uly di angkot. “Iya, Ly. Wid tau kok, turut berduka cita ajah ya, Ly.” Dari situ aku masih heran dengan perkataan Uly yang memanggil Willi dengan kata “sayang”. Apa sih maksudnya?
Pulang ke Lembang, di angkot aku bertemu dengan Dhea. Sahabatku waktu kelas 8. Lagi-lagi kita berbincang tentang kejadian yang membuat Willi pergi untuk selamanya. Memang sepertinya sedang menjadi topik terhangat bagi teman-teman SMP angkatanku itu juga bagi masyarakat yang mengetahuinya.
“Willi meninggal karena kecelakaan yah, Del?”, aku biasa menyebut Dhea dengan sebutan Gudel. “Iya, nggak nyagka sama sekali temen kita bisa cepat dipanggil Tuhan, malah dengan kecelakaan yang tragis, gak nyangka banget!”, “Iya bener gak pernah diduga, kasian ihh..”, sambil wajahku yang membayangkan bagaimana kejadian itu bisa terjadi. “Ihh guru-guru SMP juga pada ngelayat ke makamnya daa.”, Gudel lanjut bercerita. “Masa? Pastilah orang dia maskot angkatan kita, haha.”, ”Ohh Iyaa bener, bener! Waktu pas di Dodik, inget gak? Aduuuh Willi!”
Setelah kita berbincang, akhirnya gak kerasa aku turun dari angkot. Ucapan duluan, dan salam pada temannya Dhea yang juga temanku pun menjadi salam akhir pertemuan kita di angkot. Masih kangen sih udah lama gak bertengkar sama dia. Jadi inget lagi masa SMP yang super bolon..
Aku gak kerja hari ini, bukan off tapi aku gak enak badan. Ehh ternyata c Uly SMS aku.
“Wid, c Ayu temen SMK kamu mantannya Willi bukan?”, kata Uly di kotak masuk Handphoneku.
“Yaa mana Wid tau, Ly!”, aku sambil heran banget sama sikap Uly di SMS. Dari yang kemaren-kemaren malah.
“Tolong tanyainlaaaah, pleaseeee!!”, Uly seperti memaksa ingin segera mengetahuinya.
“Uly, Widy khan lagi Tranee. 6 bulan lagi mau ditanyainnya?”
“Ihh keburu Uly mati!”
“Yee ngomong tuh kemana ajah! Kenapa sih emangnya? Suka yaaa sama Willi??”
“Wid gak tau sih kejadiannya.”
“Ya justru karna Wid gak tau, makanya pengen tau!”
“Ahh dari WTW juga udah bisa ketebak Wid!”
Aduuuh aku khan gak bisa Facebookan. Sial banget ketinggalan gosip karna paket nge-Net habeees!
“Jadi kamu punya perasaan sama dia?” aku menyambung SMSan kita dengan penuh penasaran.
“Kita udah deket banget Widy... Di Jogja juga kita bareng berduaan terus.”
Hah? Bener dugaan aku, ternyata sahabatku itu suka sama alm. Willi. Ngaku jugaaa nih anak! Coba ahh aku mau korek-korek tentang kejadian rinci kecelakaan itu dan kedekatan mereka akhir-akhir ini. Seru kayaknya! (Gilaaa, masih ada kata seru nih c Widy). Haha
“Gimana bisa kecelakaan itu terjadi, Ly? Ihh pasti kamu sekarang lagi sedih banget. Sabar ya sayaaang :)” aku mencoba menghibur dia, memang hanya dengan kata-kata sabar dan simbol smile.
“Iya Wid, sabar mah pasti. Yang Ly nyesel kenapa Willi kecelakaan pas mau maen sama Ly?”
Dari situ aku sedikit kaget. Maen? Malem?
“Maen? Malem-malem?”, dengan rasa penasaran, percaya gak percaya.
“Iya, malem. Uly mau maen sama Willi.”
“Coba ceritain lebih rinci kejadiannya! Agak ngga ngerti.”
Gak lama kemudian, Uly membalas SMS aku lagi dengan cerita yang memang aku pengen tau banget, yang aku tunggu-tunggu.
“Iya, jadi jam 8 malem, Willi ngajakin Uly ngebaso. Yaa kata Uly hayu-hayu ajah. Terus Uly SMS lagi dia,”jadi gak ngebasonya?” lalu dia ngebales “Iya kalem bentar lagi, mau nganter dulu temen ke Lembang.” Yaa Uly bales lagi “kalo udah nyampe rumah SMS ajah yah!” Tapi Willi belum sempet ke rumah Uly, Wid.”
Ya Tuhan, kenapa bisa? Kaget banget waktu Uly nyerita kaya gitu. Kebayang dong gimana perasaan Uly yang entah nyesel, sedih, daaaan, aku gak bisa bayangin gimana hancurnya perasaan Uly ketika tau Willi keburu kecelakaan dan pergi untuk selamanya sebelum sempat ke rumah Uly untuk menjemputnya pergi ngebaso. Tapi, pantas saja Uly mau diajak Willi malem-malem pulang dari Jogja ngebaso, orang dia dan aku memang favorit banget sama yang namanya baso mah.
“Terus gimana kamu tau, Ly, kalo Willi kecelakaan?”, dengan penasaran aku memang tak henti ingin bertanya kepada Uly.
“Tau dari orang yang nolong dia, soalnya yang nolongnya itu liat ada SMS terakhir Uly yang masuk di Handphone-nya Willi. Terus dia nelpon Uly saat itu.”
“Nelpon? Gimana katanya?”
“Kata yang nolong: “Ini yang tadi ngeSMS “iya sok kalo udah nyampe rumah SMS ajah yah!”, terus Uly jawab: “Iya, ini siapa?”, “Yang punya HP ini kecelakaan, sekarang keadaannya lumayan kritis.”, “Hah? Willi?”, Uly kaget, Wid. Terus yang nolong bilang: “Iya, gak tau. Tolong kasih tahu keluarganya, sekarang dia lagi di RS Jayagiri.”
“Jadi kamu malem-malem nyusulin ke Jayagiri? Sama siapa? Sambil nangis gitu?”
“Iya malem-malem Uly minta anter sama Mamah dan Paman, abis gimana kepepet jadi bertiga. Nggak nangis, Wid. Karna Ly pikir dia cuman kecelakaan yang biasa ajah..”
“Terus pas di RS Jayagiri?”, aku gak henti bertanya.
“Iya Ly masih sempet liat Willi kayanya masih bisa dirawat. Waktu di Jayagiri katanya Willi masih bisa muntah darah, tapi pas Uly ke sana badan Willi udah dingin, Wid :’(”, SMS Uly sambil memberi simbol menangis.
“Jadi Willi gak tewas di tempat? Jadi meninggalnya di RS Jayagiri?”
“Iya, nggak. Kata Mamah Ly sih gitu, tapi Uly gak ada pikiran bahwa Willi meninggal, Wid. Dan di sana, Uly disuruh ke rumahnya buat ngasih tau keluarganya. Pas Uly balik ke Jayagiri, badannya udah ditutup kain :’(”, sekali lagi sahabatku itu memberi simbol tangisan.
“Kalo tau di RS Jayagiri mungkin Wid bakal nengok ke sana, kenapa kamu gak ngasih tau, Ly? Sabar ajah yah! Terus kejadian kecelakaannya kaya apa sih?”
Sebari air mataku sedikit menetes karena cerita Uly, aku juga ikut merasakan apa yang sedang Uly rasakan. Bagaimana tidak, kita yang sedang menyayangi seseorang tapi dia pergi meninggalkan kita tanpa ada waktu kita bersamanya, dia sedang dekat dengan kita.. Tapi kecelakaan memisahkan hubungan kita. “Aku gak bisa bayangin kalo itu terjadi pada Arman, orang yang aku sayangi juga. Mungkin aku juga bisa ikut mati!”, kata hatiku. Aku sangat terharu, karena orang pertama yang tau Willi kecelakaan adalah orang yang sayang sama Willi, yaitu Uly.
“Ahh Wid, Uly nangis dan hanya nge-Send All hanya ke temen-temen sekelas, gak ada pikiran buat ngasih tau orang lain dengan nangis Uly yang gak berhenti-berhenti. Dia jatuh dari motor, langsung kegeleng mobil.”, lanjut balasan SMS Uly padaku.
“Dan katanya kepalanya hampir putus?”, aku penasaran dengan apa yang ibu-ibu waktu di angkot ucapkan.
“Nggak ihh, enak ajah. Cuman retak sama geger otak.”
“Gak pake helm kali yah? Sampe retak gitu! Mana tabrak lari, gak bisa dilacak yah? Gimana sama temennya Willi yang koma?”
“Pake, Wid. Dia gak pernah lepas dari yang namanya helm. Cuman Ly juga aneh, helmnya gak kenapa-kenapa tapi dalemnya sampe kayak gitu. Iyaa karena gak ada yang tau plat No. Mobilnya. Temennya udah sadar kok. Emang takdirnya Willi harus kaya gitu kali yah, Wid?”
“Iya gak ada yang tau kapan nyawa kita diambil. Gak akan ada yang nyangka. Maaf yah sekarang Ly lagi sedih banget kayak gini, Wid gak ada deket Uly. Malah Widy baru tau kejadian kaya gini.”, aku sedikit menyesal karna aku baru tau bahwa Uly sedang menyayangi seseorang yang baru saja dekat dengannya tapi juga baru saja pergi meninggalkannya, bahkan bukan untuk sementara, tapi selamanya. Aku juga berfikir mungkin Willi juga mempunyai perasaan yang sama, menyayangi Uly. Dan mungkin ketika itu Willi ngajakin ngebaso sama Uly, dia akan menyatakan perasaannya kepada Uly dengan suasana malam yang gak pernah kita duga itu terjadi atau nggak. Wallahualam.
“Gak apa-apa kok, Wid. Ly juga ngerti keadaan Widy sekarang. Tapi yah selama di Jogja, Ly udah punya feeling yang gak enak sama dia.”
“Hmm, feel gimana?”
“Jadi selama perjalanan ke Jogja, di bis, dia khan duduk sebangku sama Uly. Terus yaa dia cerita yang ngga-nggalah, cerita dosa-dosa dia, cerita surga dan neraka, cerita jalan sirotol mustakim, aaahh pokoknya ceritanya yang kaya-kaya gitu, aneh bangeeet. Terus pas perjalanan pulang, gak tau kenapa Ly serasa gak mau kehilangan dia, Ly selalu liat dia ke bangkunya.”
“Yaa Alloh, gak nyangka yah, kamu punya feel yang begitu kuat. Jadi terharu banget sama ceritanya. Begitu ada di kehidupan nyata. Kamu bisa begitu bener-bener menyayangi seseorang yang baru saja deket sama kamu tapi dia juga baru saja pergi. Kamu harus kuat dan ikhlas yah..”
“Iya pasti, Wid. Dan Uly akan selalu menjaga amanat dan rahasia yang alm. Willi titip sama Uly. Ly pengen dia tenang di alam sana, tanpa harus selalu menangisi dia, Uly harus belajar ikhlas melepas dia ke alam sana supaya dia tenang dalam lindungan-Nya.”
Amien Ya Alloh. Semoga saja temanku, Willi bisa beristirahat tenang di sisi-Mu. Kuatkan pula sahabatku, Uly, Ya Alloh. Semoga dia tabah, aku percaya. Dan suatu saat dia bisa memiliki pengganti seorang Willi yang mampu ia sayangi sepenuh hatinya.
Ternyata ada yang lebih kuat berjuang akan perasaan yang dia miliki, bukan aku saja yang selalu berjuang menginginkan sahabat cowok terbaikku, Arman untuk bisa membalas perasaan yang aku miliki ke dia. Uly, dia lebih hebat dari aku, dia tegar, dia adalah sahabat terbaikku yang mampu menjadi guru cintaku. Karena dengan melihat jalan hidupnya yang kini dia alami, aku sadar bahwa memang kita tidak harus menekan orang yang kita sayangi bisa jadi milik kita selamanya, bahkan aku juga sadar bahwa orang yang kita sayangi bisa saja meninggalkan kita bukan hanya untuk saat ini dan hari esok tapi juga bisa saja dia pergi untuk selama-lamanya meninggalkan kita ke alam yang berbeda..
Aku ingin belajar untuk lebih ikhlas dalam menerima kenyataan yang telah Tuhan takdirkan. Karena garis hidup masing-masing orang telah Tuhan tulis ketika kita dalam kandungan ibu. Tentang umur, pekerjaan, kita jadi apa nanti, bahkan JODOH, Tuhan telah merencanakannya jauh hari ketika kita masih di rahim ibunda. Apalagi seorang wanita, yang diciptakan dari tulang rusuk laki-laki yang telah takdirkan untuk menjadi jodoh kita. Diciptakan dengan hanya memiliki satu hati, karena satu hati lagi ada pada orang yang akan kita sayang suatu hari nanti apabila kita berjodoh dengannya..