Belakangan ini, aku merasa tak dihargai. Tak dihargai oleh lelaki pilihanku. Dia menganggap aku begitu lemah dan mampu dipermainkan hatinya. Aku bisa apa? Sedangkan hati dan rasa cintaku tak pudar terhadapnya. Di sini aku meratapi, apa yang salah pada diriku? Begitu aku mencintainya dan aku rela bersakit karenanya. Apakah ini adil terhadap wanita?
Belakangan ini, aku merasa sudah tak nyaman, tak ada tempat lagi bagiku di hatinya. Entah apa yang ada di pikirannya sampai-sampai dia begitu berani terus-menerus menyalahkan wanita. Aku bisa apa? Sedangkan hati ini harus kuat menghadapinya. Hati ini harus masih tegar terhadapnya. Apakah ini adil tehadap wanita?
Yang aku tahu, wanita selayaknya dilindungi dari hal sekecil apapun. Bukan dengan amarah sekecil apapun. Aku bisa apa? Sementara aku sangat menyayanginya.
Logika begitu kuat, hati pun begitu tegar. Di mana semua perih yang akan mengubah aku untuk pergi darinya? Aku bisa apa? Sementara raga ini tetap mengacu padanya. Kuat, aku harus kuat! Mengapa? Karena aku yakin, sebisa mungkin wanita sabar sampai diperlakukan bahkan hal terburuk pun, akan ada indahnya pelangi yang menghiasi hati. Lembutnya hati wanita sampai luka segorespun kau pikirkan, sampai bentakan dengan nada sekecil itupun kau masukkan ke dalam hati, sampai raga menyentuh nurani pun kau linangkan air mata.
Tak tahu lagi apa yang harus dilakukan agar hati ini bisa sekuat baja, agar berbagai tekanan yang datang mampu sirna, agar jiwa ini tetap kuat seperti karang di lautan, agar air mata ini beku tak menghiasi pipi meronaku lagi!
Di manakah perasaan dia yang begitu keras mengajarkan kekuatan untukmu?
Wahai pria, lelaki pilihanku.
Aku tahu engkau maha baik, tapi Tuhan jauh lebih baik. Janganlah kau memperburuk derajatmu dengan tidak menghargai aku. Ku menyayangimu agar kau menjadi pelindungku. Ku mencintaimu agar kau menjadi sandaranku. Ku memperjuangkanmu, agar kelak kita akan bahagia sampai menua :')
Tidak ada komentar:
Posting Komentar